GET TO KNOW US

Leading Consultancy Services. We provide expertise with impact.

OUR TEAM

The awesome people behind our services.

  • Pujiarohman

  • Adharisman

  • Saleh Hambali

  • Emilia Resty Fatmala

  • Windri Tristiarini

  • Elis Fitriani

  • Ismeina Ulfatunnajah

  • Novia Sartika Dewi

UNIT LAYANAN

We've been developing corporate tailored services to meet your need.

ACHIEVEMENTS

Kami membantu klien; individu, organisasi dan korporasi, menemukan solusi, menganalisa dan mengintegrasi data untuk mengembangkan diri, organisasi dan bisnis.

500+

SATISFIED CLIENTS

100+

SEMINAR AND WORKSHOP

15

SOCIAL PROJECTS

100+

COUNSELING AND THERAPY

MUDA ACADEMY

It's time to find your calling. It's time to discover you.

GALLERY

Take a look at some of our activities!

  • SOCIAL MEDIA PRESSURE: HOW TO DEAL


    Sebelum membaca postingan ini, ada baiknya teman-teman membaca dulu tulisan bagian 1 dan bagian 2 ya. Lewat tulisan ini RH team akan berbagi how-to deal dengan segala pressure yang muncul dari media sosial. Yuk!


    1. Re-organize

    Re-organize tampak sepele tapi penting. Re-organize disini maksudnya memiflter ulang akun-akun sosmed yang difollow. This time you need to take it seriously! Postingan-postingan yang muncul di linimasa anda adalah turunan dari akun-akun yang anda follow. Berhenti berpikir “sekedar follow aja”, karena semua akun tersebut berpotensi menyebarkan energi negatif yang memengaruhi kamu. Jika merasa perlu, kamu juga bisa unplug—log out dari semua akun medsos, sampai batas waktu tertentu.

    2. Balancing

    Lakukan observasi terhadapa perilaku kita bermedia sosial. Mulai dengan waktu yang kita habiskan untuk bermedsos, akun medsos apa yang paling sering diakses, interaksi di medsos (komentar, like), dan seterusnya yang bisa kamu tambahkan sendiri. Observasi yang kamu lakukan bisa jadi gambaran apakah perilaku bermedsos kita sehat atau tidak. Bagaimana jika ternyata waktu yang dihabiskan untuk bermedsos lebih banyak? Saatnya ambil keputusan untuk menyeimbangkam ritme kehidupan kembali. Atur waktu dan komitmen pada kesepakatan yang kamu buat. Perlu diingat, bahwa keputusan ini adalah tentang kamu sendiri, jadi komitmennya juga harus sungguh-sungguh.

    3. Talk!

    Sometimes all we need is the ear! Sampaikan apa yang kamu rasakan pada sahabat atau orang yang kamu percaya. Seringkali perasaan terbebani karena media sosial berakar dari persepsi yang salah akan diri dan lingkungan sekitar. Orang yang kamu percaya mungkin bisa membantu mengidentifikasi masalah yang sebenarnya kamu hadapi dan menemukan solusi.

    4. Reflect

    Kebiasaan melakukan refleksi diri memang perlu dibangun. Luangkan waktu untuk merenungi aktifitas dan kejadian yang kita alami setiap hari. Dengan melakukan ini kita akan lebih aware dengan proses yang kita lewati.

    5. Terus belajar!

    Perkembangan media sosial menuntut kita untuk terus belajar dan mengupdate diri (dalam hal positif). Dengan terus belajar kita akan bisa membuat prioritas, punya target, dan tidak mudah terpengaruhi oleh kondisi di luar kontrol kita, melainkan fokus pada hal-hal yang bisa kita kendalikan.

    Dengan terus berproses kita akan lebih mampu mengapresiasi diri atas pencapaian-pencapaian yang kita lakukan, besar ataupun kecil. Be proud of yourself!

    Tips paling ampuh adalah tips yang kamu temukan sendiri. Untuk menemukannya kamu harus mulai dari dirimu sendiri. Don't settle, keep searching!
  • FENOMENA: SOCIAL MEDIA PRESSURE (PART 2)

    Di tulisan sebelumnya, RH sudah membahas sedikit tentang bagaimana social media pressure bermula dan kaitannya dengan social comparison theory. Tulisan lanjutan berikut ini mengupas aneka bentuk tekanan yang mungkin muncul dari media sosial. Mungkin bukan kita yang mengalami, or we just over it, tapi bisa jadi ada orang-orang di sekeliling kita yang sekarang sedang struggle dengan hal tersebut.

    What are those pressures? Can we relate to it?


    hybridtalks.net


    The Pressure to Be available All the Time

    This one is funny yet real; Having to live an “online mode on” for 24 hours.
    Tekanan ini lebih banyak dialami oleh remaja. Semacam ada keharusan untuk tetap online selama 24/7. Setiap ada teman yang mengunggah foto atau post kita harus untuk memberikan like atau komentar. Notifikasi demi notifikasi berujung pada endless response. Fenomena ini dikenal juga sebagai FOMOFear of Missing Out—kecemasan yang muncul akibat tekanan untuk selalu feel included—menjadi bagian dari kelompok.


    The Pressure to Live the Best Life

    “Tuh liat, pekan lalu dia liburan. Wah enak banget yaa bisa jalan-jalan terus. Pakaiannya selalu branded, belum lagi make-up nya selalu pas. ”
    Boom! Self-image yang ditampilkan di media sosial tak jarang menjadi sumber tekanan bagi orang lain. And it takes all forms; dari body image hingga couple goal, prestasi hingga bridal shower, barang-barang kekinian hingga lingkar persahabatan. Menariknya, siapa saja bisa mengalami tekanan ini, lepas dari gender maupun usia.

    Sometimes, looking at friends’ feeds “makes you feel like everyone has it together but you”

    The Pressure to Engage in Certain Behaviors

    “Yok pose gini biar kekinian kayak orang-orang di medsos”
    Semuanya bermula dari pernyataan sesederhana di atas. Sepertinya tak beresiko, namun pada banyak kasus “ikut-ikutan” kerap berujung pada challenge ekstrim lainnya. Ada banyak challenges yang beredar di media sosial, tak sedikit yang aneh dan nir-faedah namun tetap banyak yang melakukan. Alasannya sekedar meramaikan, pembuktian diri, sampai ingin terkenal.


    The Pressure of Cyberbullying

    Social media provides open space to accommodate your thoughts and comments. This can be good and bad all at once.

    Semua orang bebas berkomentar di media sosial. Kebabasan ini sering disalahgunakan tanpa filter. Semua orang merasa berhak memberikan komentar, meski sebenarnya nggak ada kaitan apapun dengan hal / orang tertentu. Kita berkomentar tanpa berpikir bahwa komentar tersebut bisa jadi menyakiti orang lain. Bahkan meski niatnya buat sekedar lucu-lucuan. Jika tak jadi koban, apa iya kita harus ikut-ikutan jadi bullies?

    image: pngdownload


    Adakah di antara pressure di atas yang sedang teman-teman rasakan saat ini? How to handle all those pressures? How to stay “you” in this era of social media?

    Read more in the next article!


  • FENOMENA: SOCIAL MEDIA PRESSURE (PART-1)

    Smartphone makin mudah dimiliki, akses internet tak lagi ngadat, bahkan sampai ke desa-desa. Alhasil, jumlah pengguna media sosial terus bertambah. Sebuah indikator yang menggambarkan kemajuan, namun di sisi lain melahirkan aneka tantangan. Penelitian terbaru oleh We Are Social dan Hootsuite mencatat per Januari 2018 penetrasi penggunaan internet di Indonesia mencapai 132,7 juta dari total total 265,4 juta penduduk Indonesia. Dari angka tersebut sekitar 130 juta diantaranya aktif di berbagai media sosial. Yes, termasuk kita! Kita yang sedang membaca artikel ini.

    image: mlifestyle.org


    MEDIA SOSIAL: DUA SISI MATA UANG

    Harus diakui bahwa keberadaan media sosial punya banyak manfaat. Dari yang klasik semisal sambung silaturrahim dengan kerabat dan teman hingga sarana memperoleh informasi. Yup, ada banyak sekali akun-akun penuh faedah yang berbagi tips ini-itu; termasuk akun perusahaan, figur publik, praktisi profesional, hingga “orang-orang biasa” yang jadi selebgram lewat berbagai konten. Menariknya, semua punya follower masing-masing.

    Di lain sisi, kita dikepung banjir informasi. Hanya dengan sekali klik akan bermunculan informasi dari berbagai lini dan ragam sudut pandang. Banyak akun dengan konten positif, namun tak sedikit yang bermuatan negatif atau bahkan cenderung mengarahkan opini publik. Kita memilih, memilah—namun, sedikit atau banyak, info-info tersebut memengaruhi kita. Pada akhirnya, semua selalu kembali kepada kita sebagai user. Mau follow akun yang mana? Mau ikut berkomentar atau tidak? The choice is always in our hand!

    KAMU VS MEDIA SOSIAL

    Sebelum dibahas lebih jauh, yuk kita coba refleksi diri dengan mencoba menjawab pertanyaan di bawah ini:

    1.  Apakah kamu pernah membandingkan kehidupan kamu menggunakan standar postingan orang-orang di media sosial?

    2. Apakah kamu pernah mengunggah postingan sebagai bentuk keinginan untuk menampilkan gambaran hidup yang sempurna layaknya postingan orang-orang di media sosial?

    3. Apakah setelah membuka media sosial kamu merasa down, karena banyak orang-orang yang tampak hebat karena sudah kemana-mana, punya apa-apa, sementara kamu disitu-situ aja?

    4. Apakah kamu merasa tidak mengalami dua hal di atas, namun sering komplain akan hidup on screen yang sebetulnya tak sama dengan kehidupan nyata?

    Kalau kamu menjawab iya untuk setidaknya dua dari pertanyaan di atas, berarti kamu tahu bahwa media sosial punya pengaruh terhadap preferensi dan bagaimana kamu memandang / menghadapi sebuah permasalahan.

    Apakah itu adalah hal yang salah? Nope. Tentu saja tidak. Kita harus mengakui bahwa media sosial punya potensi untuk itu. Bagian ini justru menjadi hal yang paling penting: kita aware akan kemungkinan ini sehingga mampu memfilter saat sesuatu sudah mulai keluar dari batas wajar.

    MEMBANDINGKAN DIRI, MENGAPA?

    Sebuah teori dalam ilmu psikologi, Social Comparison Theory, menjelaskan tentang dorongan yang ada pada diri manusia untuk mengevaluasi diri (self-evaluate). Kecenderungan untuk menilai diri seringkali dilakukan melalui komparasi sosial (social comparison). Pembanding dalam komparasi sosial umumnya adalah teman sebaya (same age group) atau kelompok yang dirasa memiliki kemiripan.

    “Seorang pelajar yang baru berlatih basket dan menguasai beberapa teknik dasar mulai mengevaluasi perkembangan latihannya. Ia membandingkan kemampuannya dengan pelajar lain yang mengikuti ekskul basket di sekolah”

    Menurut teori komparasi sosial, ada dua jenis perbandingan:

    • Upward Social Comparison
    Saat membandingkan diri dengan orang lain yang kita yakini lebih baik dari kita. Perbandingan ini berfokus pada keinginan untuk meningkatkan kemampuan diri. Dengan demikian, kita akan berusaha lebih keras dan menemukan cara untuk mencapai hal yang sama atau lebih dari pembanding.

    • Downward Social Comparison
    Saat membandingkan diri dengan orang yang dirasa tidak lebih baik dari kita. Perbandingan ini berfokus untuk menciptakan rasa “nyaman” terhadap diri sendiri.
    “Kemampuan saya mungkin tidak baik, tapi setidaknya saya lebih baik dari…”

    Pada dasarnya, kita melakukan kedua perbandingan di atas. Ada yang lebih sering melihat ke atas, ada juga yang lebih sering membandingkan ke bawah. Mana yang lebih baik? Sebenarnya ini bukan tentang baik – tidak baik, tapi lebih kepada bagaimana kita mampu menempatkan “perbandingan” ini sesuai porsinya.


    STANDAR MEDIA SOSIAL

    “Ya iyalah, saya posting konten yang menarik. Yang ekspresinya happy, bajunya bagus, nongkrong bareng temen. Kalau nggak menarik, ya saya nggak posting”

    Nah, kira-kira begitu penjelasannya. Foto atau video yang diupload ke sosmed adalah konten yang sudah “dipersiapkan”. Tujuannya tentu macam-macam. Ada yang sekedar posting, ada yang memancing orang untuk berkomentar, menambah follower, berbagi rekomendasi, dan seterusnya.
    Dari beragam tujuan tersebut ada satu kesamaan:


    “What I post is what I want you to see, and that doesn’t represent the whole-on-going-things in life”

    image: studentshow.com

    Yap, sebenernya sesimpel itu. Postingan di media sosial tidak menggambarkan keseluruhan proses yang terjadi. Misalnya, ada foto-foto ibu dengan 3 anak yang masih kecil-kecil, terlihat happy dan enjoy menikmati liburan. Yang tampak di foto hanya bagian “happy”, tapi si ibu nggak pernah updet bagaimana repotnya harus ngurus tiga anak, packing, nabung, menahan diri buat nggak shopping, belum lagi proses diskusi dan debat soal menentukan tujuan liburan. Banyak!

    Sayangnya, banyak yang menjadikan postingan di media sosial sebagai standar. Siapa saja dengan mudahnya menambahkan hashtag #couplegoals #happylife #IWakeUpLikeThis dan banyak lainnya.

    “Kalau kamu nggak posting foto bareng pasangan saat sedang liburan orang bakal mikir kamu nggak bahagia dan nggak pernah jalan bareng”
    “Posting OOTD dan nongkring cantik bareng temen-temen supaya yang lain tahu kalau kamu masih aktif bergaul”

    Tentu tidak semua orang menjadikan standar media sosial sebagai standar pribadi, meski tak sedikit juga yang terpengaruh.

    “Banyak yang rela belanja barang mewah meski kantong pas-pasan demi konten Instagram yang terlihat wah. CafĂ© hopping bareng temen—dimana sebenernya semua sibuk pegang handphone—yang penting ada hashtag #friendshipgoal.”

    That’s how social media standard takes over someone’s life.


    Sekali lagi, tak semua! Banyak user yang menjadikan media sosial sebagai flatform bermanfaat untuk berbagai inspirasi. Banyak user yang menjadikan media sosial sebagai ruang interaksi apa adanya tanpa harus terbebani oleh standar-standar semu.

    Hemm.. bagaimana kalau kita sudah mulai merasakan tekanan? Apa yang harus dilakukan? Apa saja hal-hal yang mungkin muncul akibat tekanan media sosial?
    Bagaimana ber-media sosial secara positif?

    Lanjutannya ada di part-2 ya! Stay updated!












  • STRESS AND SELF-CARE

    STRES & SELF-CARE

    Awal Februari lalu (02/02), CEO Rumah Hijau (RH) Consulting, Pujiarohman M.Psi., Psikolog, yang akrab dipanggil Bang Puji mengisi event #AcibaraTalk tentang mental health awareness. Topik yang diangkat adalah tentang stress. Yuk, simak ulasannya!


    Stres adalah respon individu; fisik, mental, emosi, tingkah laku, terhadap tekanan atau kondisi yang kurang atau tidak menyenangkan dari lingkungan.

    Stres = Respon Alami

    Hal pertama yang perlu kita pahami tentang stres adalah sifatnya yang alami dan pasti dirasakan oleh setiap individu.

    Besok ada ujian, stres! Pekan depan harus ketemu gebetan, stres! Selesai kuliah belum dapet kerja, stres! Duit buat modal nikah masih kurang, stress! Pernah mengalami yang seperti ini?

    Di satu sisi, stres berperan positif sebagai warning system—alarm pengingat—bahwa memang dalam menjalani kehidupan berikut ragam peran di dalamnya, manusia butuh stres untuk bergerak dan mengusahakan yang terbaik demi melalui tantangan dan bertahan hidup.

    Nah, kalau sekarang kamu merasa sedang stres karena banyak-hal-yang-harus-diselesaikan, rilex and slow down a bit, bilang sama diri kamu bahwa ini wajar, dan pelan tapi pasti kamu akan menemukan satu demi satu solusi tantangan yang kamu hadapi.

    © 

    RH Consulting


    Stres = Persepsi

    Perception is where it all starts. Semua bermula dari persepsi. Tingkat stress seseorang sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut mempersepsikan suatu kejadian. Peristiwa yang persis sama bisa jadi memiliki pengaruh yang berbeda pada individu karena perbedaan persepsi yang dimiliki.

    Persepsi sendiri bukanlah hal yang ujug-ujug ada. Ia hadir seiring dengan perjalanan manusia; bagaimana individu lahir dan dibesarkan, orang-orang di sekelilingnya, pengalaman hidup dan kompleksitas lainnya. Menarik!

    Stres muncul ketika kita mempersepsikan suatu kejadian sebagai peristiwa yang sulit, berbahaya, menyedihkan, ditambah dengan perasaan bahwa kita tak bisa mengatasi tantangan tersebut. Sistem dalam tubuh kemudian akan memunculkan respon stress (fight or flight response).



    © 

    RH Consulting


    Apakah stres berbahaya?

    Karena stres merupakan respon alami, maka seharusnya ia tidak berbahaya jika muncul dalam jumlah yang cukup. Stres merangsang individu untuk berpikir kreatif, menjadi produktif, dan menciptakan skema-skema penyelesaian masalah/stresor yang mungkin hadir kembali di masa yang akan datang.

    Stres berbahaya jika ia muncul dalam dosis yang berlebih dan dalam jangka waktu yang lama. Ketika tidak mampu dikelola maka stres akan menyebabkan perubahan pada individu, meliputi fisik, mental, emosional, tingkah laku. Stres berkepanjangan akan memicu lahirnya gangguan kesehatan mental lainnya, termasuk gangguan kecemasan (anxiety) hingga depresi.

    Jika sudah berkepanjangan maka perlu bantuan profesional (psikolog/psikiater) untuk penanganan lebih lanjut.

    © 

    RH Consulting

    Self Care

    self-care dapat dipahami sebagai bentuk regulasi diri individu berupa aktifitas yang mendukung kesehatan fisik, mental, emosional.

    Ada lima aspek yang harus diperhatikan agar mental tetap sehat, agar diri tak rentan stress. Kelimanya meliputi: fisik, spiritual, sosial, mental, dan emosional. Nah, kira-kira aktifitas apa yang bisa dilakukan sebagai bentuk self-care untuk memenuhi kebutuhan terhadap 5 aspek tadi? Ada banyak kegiatan, ada banyak pilihan. It’s all up to you! Dengan begitu kita jadi lebih aware akan keunikan diri, mengenal diri dengan lebih baik, dan mampu mengelola stres secara positif.

    Yuk, belajar kelola stres!

    Kontributor: Eliyan Umamy



  • NEW LAUNCHED #TEENGUIDE : JADI REMAJA ASYIK YANG PRODUKTIF

    NEW LAUNCHED #TEENGUIDE : JADI REMAJA ASYIK YANG PRODUKTIF



    Masa remaja adalah masa penuh warna. Masa menyenangkan, penuh keseruan, sedikit (atau banyak?) galau, masa ke-aku-an. Nano-nano. Ini adalah masa “antara”, transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Momen panjang tapi juga singkat, sedikit banyak, ia menjadi penentu tahap perkembangan di fase berikutnya: fase dewasa.

    Well, tim RH sengaja bikin #teenguide untuk membantu kalian, RH teen, mengenal diri dan menikmati masa remaja dengan asyik dan produktif. Mengenal diri? Yup! Mengenal diri bukan cuma tentang tahu nomor sepatu, hobi, suka ini-itu, seneng main sama si A-B-C. Tahu semua hal di atas memang penting, karena artinya RH Teen mulai aware dengan diri dan lingkungan sekitar.

    Hemmm..”tahu” yang lainnya adalah mengulik alasan di balik fenomena-fenomena dan tahu bagaimana menyikapinya. Well, not as an expert, tapi minimal bisa jadi P3K buat diri sendiri. Misal, kok aku kalau lagi bad mood ngemilnya jadi lebih banyak? Atau, aku kok sulit percaya sama orang lain, bahkan kakakku sendiri? Apa yang harus aku ubah agar belajar jadi lebih semangat? Dan seterusnya.. Semakin cepat dan sigap kamu aware dengan printil-printilan “wajar” semacam itu, makin cepat dan tepat reaksimu, makin kurang galaunya, dan makin produktif waktunya.

    Kenapa harus produktif?

    Bukan apa-apa, tapi sungguh, zaman berubah begitu cepat, dan masa depan bangsa ini ada di tangan kalian, para pemuda. Mungkin bukan saat ini, tapi 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun, 30 tahun dari sekarang, kalianlah, para pemuda, yang akan ambil andil dalam sektor-sektor penting bangsa ini. Kalian pemimpinnya!

    After all, it is all about you. About the process of you becoming the best version of you.

    Sekian prolognya. Semoga apa yang Tim RH sajikan bermanfaat!

    Stay updated!
  • Get to Know: Membedakan Takut, Cemas, Fobia, dan Trauma

    Takut, Fobia, Cemas, dan Trauma—Empat istilah ini sering kita gunakan untuk menggambarkan perasaan yang secara umum oleh banyak orang disebut sebagai “takut”. Keempat istilah tersebut sebetulnya memiliki definisi berbeda dan batasan yang jelas. Nah, agar kita lebih bijak menggunakan kata, yuk kita baca penjelasannya!


    image: everydayhealth.com

    TAKUT

    Takut: merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana (definisi KBBI).

    Berdasarkan pengertian dari KBBI di atas, maka perasaan takut adalah hal wajar jika disebabkan oleh hal-hal yang perlu diwaspadai, sesuatu yang berbahaya, atau mungkin mendatangkan bencana. Objek yang menjadi penyebab munculnya rasa takut adalah jelas, nyata dan sifatnya memang berbahaya.
    Contohnya, takut melewati suatu jalan karena banyak preman mangkal yang sering mengganggu, takut akan kawanan pencuri, atau takut diserang anjing liar yang berkeliaran di kompleks.


    CEMAS

    Cemas: tidak tenteram hati (karena khawatir, takut); gelisah (definisi KBBI).

    Cemas berbeda dengan takut, meski rasa tidak nyaman yang ditimbulkan bisa jadi sama. Pada kecemasan, objek yang menjadi sumber ketakutan tidak jelas dan tidak berbahaya.

    Misalnya, cemas memikirkan sahabat dekat yang tak kunjung memberi kabar hingga memunculkan “pikiran-pikiran aneh”, atau khawatir dengan perjalanan ke luar kota minggu depan lengkap dengan skenario hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

    Perasaan takut maupun cemas sebtulnya adalah hal yang wajar, manusiawi. Namun jika berlebihan dan tidak bisa dikontrol maka dapat menganggu diri, baik secara fisik maupun psikis. Kecemasan yang berlebihan akan membuat kerja organ tubuh tidak normal. Saat serangan cemas muncul, penderita akan merasa sesak, mual, sampai ingin muntah, bahkan pingsan.

    FOBIA

    Fobia: ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya (definisi KBBI).

    Pada fobia, ketakutan bersumber dari objek yang jelas namun tidak berbahaya. Misalnya, fobia akan ketinggian, binatang tertentu, darah, dan aneka objek lainnya. Fobia juga diklasfikasikan ke dalam salah satu bentuk gangguan kecemasan.

    Fobia dapat dikenali dengan melihat reaksi yang muncul saat seseorang melihat objek atau menghadapi situasi tertentu. Umumnya penderita akan terlihat panik, berusaha menghindar, dan menunjukkan perubahan fisiologis lainnya seperti berkeringat, nafas sesak, dan detak jantung meningkat.

    Umumnya, fobia disebabkan oleh pengalaman tidak menyenangkan atau menakutkan, atau pengaruh lingkungan—modelling dari orang dewasa yang bersamanya.

    TRAUMA

    Trauma: keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani (Definisi KBBI).

    Trauma dipicu oleh adanya kejadian “traumatis”. Kejadian traumatis akan direspon berbeda oleh tiap individu. Misalnya, pernah mengalami kecelakaan saat berkendara motor, akan menjadi pengalaman traumatik dan membuat seseorang tidak berani lagi naik sepeda motor, namun bagi yang lainnya, bisa jadi pengalaman kecelakaan tersebut hanya dikategorikan sebagai peristiwa buruk dan tidak sampai menyebabkan trauma.

    Peristiwa traumatis dapat menimbulkan reaksi emosional dan reaksi fisik yang kuat. Pada beberapa orang reaksi ini akan mereda dalam hitungan hari hingga minggu. Ini masih tergolong normal. Pada beberapa lainnya, ggejala bisa berlangsung lebih lama dan lebih parah. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor seperti sifat persitwa traumatis, pengalaman tidak menyenangkan yang diperoleh sebelumnya, dukungan dari orang-orang di sekitar, dan kepribadian masing-masing individu.

    Gejala trauma dapat berupa gejala fisik, kognitif, perilaku, dan emosional. Gejala fisik dapat berupa kelelahan, sakit dan nyeri pada anggota tubuh tidur terganggu, sulit atau bahkan mogok makan. Gejala kognitif dapat berupa munculnya pikiran-pikiran buruk dari peristiwa traumatik yang dialami. Hal-hal kecil yang tidak kita sadari mampu memicu re-experience—merasa mengalami kembali—memunculkan kembali kenangan tidak menyenangkan hingga terjadi disorientasi dan kebingungan.

    Perubahan tingkah laku berupa sikap menghindar, baik menghindari objek, orang, maupun momen. Termasuk di dalamnya adalah menarik diri dari pergaulan sosial dan hilang minat pada hal-hal yang dulu biasa dilakukan. Perubahan emosi yang biasanya muncul adalah lekas marah, merasa bersalah, cemas, panik, dan sulit mengendalikan emosi.

    Nah, bagaimana? Cukup jelas kan perbedaannya.
    Meski sering digunakan secara bersamaan dan memiliki keterkaitan satu sama lain, keempat istilah ini perlu dipahami tidak hanya sebatas definisi. Pada tataran praktik, kita bisa menggunakan pengetahuan akan hal ini untuk lebih berempati pada orang-orang di sekitar kita.

    Seringkali, dalam kondisi yang tak menyenangkan, hal pertama yang bisa kita lakukan untuk orang lain adalah menenangkan dengan menunjukkan empati. Jika di luar batas wajar, maka akan sangat bijak, jika terhubung langsung dengan profesional seperti psikolog atau psikiater.

    Referensi:

    Anxiety Disorder. (October, 2017). Retrieved from: https://www.psychology.org.au/for-the-public/Psychology-topics/Anxiety

    Phobia. (October, 2017). Retrieved from: https://www.psychology.org.au/for-the-public/Psychology-topics/Phobias

    Types, Symptoms, and Treatment of This Persistent and Extreme Fear. Cherry, K., Fogoros, R.N. (August 31, 2018). Retreived from: https://www.verywellmind.com/what-is-a-phobia-2795454


  • OUR PROGRAMS

    RH Consulting menyediakan ragam program yang disesuaikan dengan kebutuhan klien

    CONTACT US

    For enquiries you can contact us in several different ways. Contact details are below.

    Rumah Hijau

    • Street :Jl. Batu Bolong No.54, Pagutan Bar., Kec. Mataram, Kota Mataram
    • Company :RH Consulting
    • Phone :0819-1745-7930
    • Country :INDONESIA
    • Email :rumahhijau.consulting@gmail.com

    We want to take part in your journey of discovery! It's time to connect and collaborate.

    Feel free to reach us: ask questions, share ideas and information, propose to collaborate, etc. We're in!