• BELAJAR MEMAAFKAN


    It’s sad, so sad
    It’s a sad sad situation
    And it’s getting more and more absurd
    That
    Sorry seems to be the hardest word 


    Lagu di atas pernah dipopulerkan oleh grup band Blue di era 90an. Hemmm..tapi apakah benar memaafkan adalah hal yang sulit dilakukan?

    Bagi banyak orang, memaafkan adalah perkara yang mudah, namun bagi banyak yang lainnya, memaafkan juga adalah perkara yang sulit. Butuh persiapan dan usaha yang tidak sederhana untuk dapat memaafkan.
    Image: success.com
    Pemaafan didefiniskan sebagai proses (atau hasil dari proses) yang di dalamnya melibatkan perubahan emosi dan sikap, khususnya terhadap pihak bersangkutan yang sebelumnya memicu rasa tidak nyaman. Banyak peneliti mengaitkan pemaafan sebagai proses yang sifatnya intentional—atas kesadaran dan voluntary—secara sukarela. Hal ini memungkinkan individu untuk secara sadar mengurangi hingga menghilangkan rasa tidak nyaman yang sebelumnya “sengaja” disimpan.

    Menarik? Yep!

    Berdasarkan sifat intentional dan voluntary tadi, maka proses healing terhadap kejadian yang tidak menyenangkan sebetulnya tidak muncul dari keajaiban waktu, sebagaimana yang sering dikutip banyak orang, “time heals all the wound”—waktu akan mengobati luka. Benar, butuh waktu untuk mengobati luka, namun dalam perjalanan waktu tersebut, ada komponen kesadaran dan kerelaan diri untuk melepaskan energi negatif dan move on.

    Teori memang selalu mudah. Pada praktiknya, memaafkan itu susah susah gampang. That’s why, kata-kata “iya, saya maafkan”, bisa jadi hanya sekedar di lisan saja, namun belum lahir dari kerelaan. Is it that hard to forgive? Nope, as long as you want to try! The Stanford Forgiveness Project merilis temuan berdasarkan riset pemaafan yang mereka lakukan terhadap para mahasiswa. Hasilnya adalah, pemaafan adalah skill yang dapat dilatih. Pemaafan juga meningkatkan kesejahteraan fisik dan emosi yang berujung pada peningkatan kualitas hidup.

    Adakah cara mudah untuk melatih skill memaafkan?

    Tim RH coba mengumpulkan brief practice untuk belajar memaafkan dari berbagai sumber. Namun hal pertama yang harus diingat adalah: there’s no quick fix. Take your time and grow with the process!

    6 STEPS TO FORGIVENESS

    Pahami apa yang anda rasakan
    Lakukan eksplorasi diri terkait perasaan anda. Peristiwa apa yang telah anda alami? Apakah anda meghadapinya atau justru menghindar? Apa pengaruhnya bagi anda secara fisik atau mental? Pertanyaan-pertanyaan tadi bisa mengeksplorasi lebih banyak tentang apa yang anda rasakan. Robert Enright, PhD, co-founder The International Forgiveness Institute menyarankan untuk melakukan jurnaling, yaitu menyediakan waktu 10-15 menit setiap hari untuk melaukan eksplorasi rasa, hingga anda merasa puas dan memahami apa yang sebetulnya anda alami dan rasakan, termasuk pengaruhnya dalam kehidupan anda.

    Change your story
    Apakah anda punya cerita “menyedihkan” yang anda ulang berkali-kali baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Nah, jika anda ingin move on dan memaafkan, inilah waktunya untuk mengubah cerita anda. Ubah cerita anda dari korban menjadi pejuang, from a victim to a hero. Konten cerita anda tidak lagi tentang betapa buruknya hal yang menimpa anda, tapi apa yang anda lakukan untuk bangkit. Be proud, you did it!

    Make the choice to forgive and committed to it
    Sekali lagi, memaafkan adalah pilihan yang disadari dan dilakukan dengan sukarela. Jika anda telah membuat pilihan, maka mulailah untuk berproses dalam pilihan tersebut dengan komitmen. Keep going!

    Disini, Saat ini
    Yes, we need to focus on here and now. Anda bisa jadi masih belajar untuk bangkit dari persitiwa di masa lalu, namun stress yang anda alami muncul di masa kini; perasaan, pikiran atau reaksi biologis tubuh. That how strong it could impact you. Luangkan waktu untuk refeleksi diri. Setiap kali perasaan tidak nyaman itu muncul, set yourself aside for a moment, tarik nafas yang panjang, berdoa, lihatlah hal-hal menarik di sekeliling anda, hal-hal yang menyenangkan yang baru saja anda alami. Anda bisa menemukan cara personal untuk lebih mengapresiasi momen harian dan menyadari bahwa “here and now” adalah momen terbaik yang dapat anda maksimalkan.

    Don’t rush, take your time
    Meskipun anda telah membuat pilihan dan mencoba berkomitmen, namun tetap saja memaafkan bukan hal yang dapat terjadi dalam sekejap. Linda Wasmer (2005) membuat perumpamaan yang sangat menarik tentang hal ini: memaafkan adalah seperti proses evolusi, bukan kejadian sekali dan sekejap mata. Anda bisa jadi mengunjungi kenangan tak nyaman tersebut berulang kali, namun setiap kunjungan, anda semestinya merasa lebih ringan, hingga akhirnya beban tersebut lepas.

    The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong ~ Mahatma Gandhi

    Referensi:


    American Psychological Association, (2006). Forgiveness: A sampling of Research Result. Washington, DC: Office of International Affairs.

    Luskin, F.M. (2003) Forgive for Good: A Proven Prescription for Health and Happiness. Harper Collins: San Francisco.

    Andrews, L.W. (2005, September 7). The Art of Forgiveness. Retrieved from http://experiencelife.com
  • 0 comments:

    Posting Komentar