• MENGENAL EMOSI

    Aku nggak bisa nahen emosi. Lhaa dia tiba-tiba marah di depan banyak orang. Aku balik marah-marah lah!

    Perasaanku nggak tenang, aku sedih. Seharian ini dia belum ngasi kabar.

    Hemm…apa iya, emosi selalu berkaitan dengan ekspresi diri seperti marah atau sedih?
    Yuk, cari tahu lebih banyak tentang emosi!




    Apa itu emosi?

    "An emotion is a complex psychological state that involves three distinct components: a subjective experience, a physiological response, and a behavioral or expressive response."

    Merujuk pada buku Discovering Psychology (Hockenbury, 1997), emosi didefinisikan sebagai kondisi psikologis komplek yang melibatkan tiga komponen utama: pengalaman subjektif, respon fisiologis dan respon ekspresi.

    Psikolog Paul Eckman, pada 1972 mengklasifikasikan emosi menjadi enam emosi universal: fear (takut), disgust (jijik), anger (marah), surprise, happiness (bahagia), dan sadness (sedih).

    Psikolog lainnya, Robert Plutchik,(1980) mengenalkan whell of emotions”—roda emosi, yang menggambarkan bagaimana beberapa emosi berbeda bergabung dan menghasilkan jensi emosi lainnya. Melalui penelitiannya, Plutchik menyebutkan 8 emosi dasar: happiness vs sadness (bahagia-sedih), anger vs fear (marah-ketakutan), trust vs disgust (percaya-kemuakan), surprise vs anticipation (terkejut-antisipasi).

    Tiga Komponen Emosi

    1. Pengalaman Subjektif

    Salah satu hal yang menarik dari emosi adalah sifatnya yang universal. Setiap orang, lepas dari asal muasal dan identitas dirinya, merasakan emosi. Yang berbeda adalah cara mengekspresikannya. Ekspresi inilah yang kemudian disebut oleh para ahli lahir dari subjektifitas individu. Emosi marah atau bahagia, misalnya, memiliki spektrum yang luas, dipicu oleh berbagai peristiwa berbeda, yang juga ditanggapi secara berbeda oleh masing-masing individu. Semua ini jelas berasal dari interpreatsi atas pengalaman subjektif sebelumnya.

    Emosi tidak selalu muncul dalam bentuk tunggal. Kerap kali, emosi yang kita rasakan adalah gabungan dari beberapa emosi. Misalnya, saat diterima bekerja di tempat baru, kita bisa jadi merasa sangat bersemangat sekaligus khawatir dalam waktu yang bersamaan. Kita bersemangat karena membayangkan situasi dan rekan kerja baru, namun juga khawatir akan kejutan-kejutan di hari pertama, tentang penerimaan dan kemampuan beradaptasi.

    Apakah anda pernah mengalami peristiwa serupa?

    2. Respon Fisiologis

    Pernahkan anda tiba-tiba berkeringat dingin saat dihadapkan pada situasi tertentu? atau memerah malu saat bertemu orang yang dikagumi?

    Ya, itu semua adalah respon fisiologis yang lahir dari emosi. Ajaibnya, it all comes as fast as the emotion arises! Menurut teori Cannon-Bard atau yang lebih dikenal dengan Thalamic Theory, kita merasakan emosi dan mengalami reaksi fisiologis secara simultan; exactly at the same time.

    3. Respon Ekspresi

    Kita mengekspresikan emosi lewat banyak cara, baik melalaui komunikasi verbal atau non verbal; lewat kata lisan atau bahasa tubuh. Bahasa tubuh yang paling utama digunakan untuk menyampaikan mesi adalah ekspresi wajah (facial expression). Menariknya, lepas dari bahasa tubuh lain, yang umumnya dipengaruhi pleh perbedaan kultur, para peneliti menemukan bahwa ekspresi wajah lebih bersifat universal. Artinya, ekspresi lewat mimik atau raut wajah umumnya tampak sama, melewati batas kultur dan perbedaan lainnya. Awe!
    ilustrasi: Arya Dani

    Referensi:

    Cannon, W.B (1927) The James-Lange theory of Emotion: A Critical Examination and an Alternative Theory, American Journal of Psychology.

    Hockenbury, D.H. & Hockenbury, S.E. (2007). Discovering Psychology. New York: Worth Publishers.






  • 0 comments:

    Posting Komentar