• Berdamai Dengan Emosi Pasca Bencana

    Kegiatan rekreasional terapi oleh relawan (courtesy: Relawan Sahabat Anak)

    Lombok, pulau seribu masjid yang dikenal dengan keindahan alamnya, kini tengah berusaha bangkit dari guncangan. Tiga gempa besar dalam tempo relatif singkat membuat Lombok harus rehat sejenak, berbenah, dan menguatkan diri lagi.

    Selain kerugian yang tampak—korban jiwa, luka-luka, infrastruktur dan rumah tinggal yang hancur—efek emosional pasca bencana juga menjadi hal yang harus diperhitungkan. Reaksi emosional yang muncul adalah suatu kewajaran bagi mereka yang mengalami/terdampak bencana.

    Sebetulnya, reaksi emosional muncul tidak hanya pada saat terjadi bencana alam, namun pada peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan—distressing events. Respon bisa jadi beragam, mulai ringan sampai berat. Hal ini erat kaitannya dengan pengalaman di masa lalu dan ketahanan mental masing-masing individu.

    Dengan mengenali respon emosi terhadap distressing events, kita dapat secara efektif mengelola perasaan, pikiran, dan tingkah laku, yang tentunya akan sangat membantu hingga ke tahap pemulihan (recovery).

    Reaksi dan Respon Umum Terhadap Bencana

    Terkejut, bingung, dan kesulitan mengintegrasikan informasi kompleks adalah reaksi umum yang muncul setelah bencana. Setelah reaksi awal ini mereda, akan muncul berbagai respon pikiran dan tingkah laku. Respon yang muncul umumnya berupa:

    1. Perasaan yang berubah-ubah

    Anda dapat merasa gelisah, gugup, atau sedih. Seringkali, anda juga akan merasa lebih mudah marah atau murung dibandingan kebiasaan sebelumnya.

    2. Perubahan sikap dan tingkah laku

    Re-experience—seakan-akan mengalami kembali bencana atau persitiwa tidak menyenangkan—sangat mungkin terjadi, apalagi bila sebuah peristiwa terekam dengan sangat kuat dalam memori. Hal-hal kecil bisa jadi memicu kembali kenangan tersebut. Reaksi fisik dapat berupa detak jantung yang cepat atau berkeringat. Ada juga yang mengalami sulit konsentrasi atau bimbang mengambil keputusan. Pola tidur dan makan juga dapat terganggu.

    3. Sensitivitas terhadap lingkungan
    Suara keras, sirine, bau terbakar, atau sensasi indrawi lainnya yang datang dari lingkungan dapat menstimulasi ingatan akan bencana yang menciptakan kecemasan. Pemicu ini mungkin disertai dengan ketakutan bahwa peristiwa yang menegangkan akan berulang.

    4. Ketegangan dalam hubungan interpersonal
    Dalam kondisi pasca bencana, konflik lebih mudah terjadi, terutama dengan orang-orang dekat anda. Anda bisa jadi lebih sensitif dan menarik dari dari lingkungan sosial.


    5. Gejala fisik yang berhubungan dengan stres
    Sakit kepala, mual dan nyeri dada, sangat mungkin terjadi, dan membutuhkan pertolongan medis. Kondisi medis yang sudah ada sebelumnya dapat dipengaruhi oleh stres yang berhubungan dengan bencana.

    Bagaimana menyikapinya?

    Banyak penelitian menunjukkan bahwa, manusia memiliki ketangguhan untuk bangkit dari keterpurukan. Prosesnya bahkan bisa lebih cepat pada orang-orang yang mampu mengelola emosi dengan baik, mengedepankan emosi positif sebagai strategi pemecahan masalah. Emosi positif menjadi semacam rehat psikologis untuk menghadapi stres sehingga lebih siap untuk menghadapi tahapan berikutnya.

    Perasaan tidak nyaman dapat dirasakan dalam jangka mingguan atau bahkan bulanan, hingga akhirnya kita dapat kembali ke kondisi normal. Pola yang umum adalah lahirnya ketahanan individu (resilience) yang diikuti dengan pemulihan (recovery), jika tidak, maka individu akan mengalami stres berkepanjangan hingga berefek pada depresi atau trauma.

    Dalam situasi tidak menyenangkan, tentunya kita tak bisa bergelut hanya dengan diri sendiri. Untuk bisa membantu orang lain maka kita perlu membantu diri sendiri terlebih dahulu.

    Berikut adalah beberapa tips sederhana yang dirangkum RH untuk membantu anda melalui fase stress.

    1. Take your time, feel it
    Terimalah kondisi yang anda alami. Perasaan tak nyaman yang anda rasakan adalah respon normal. Bersabarlah dengan perubahan emosi yang anda alami.

    2. Ceritakan pengalamanmu
    Bercerita, utamanya kepada orang-orang terdekat; pasangan, sahabat, keluarga, adalah salah satu cara ampuh untuk merilis emosi negatif. Dalam situasi bencana anda juga dapat membuat support grup dengan orang-orang yang juga mengalami situasi sama.

    3. Cobalah memulai rutinitas atau menciptakan rutinitas baru

    Jika rutinitas lama belum kembali seperti sedia kala, maka cobalah menyusun ritme rutinitas baru. Mulai dari hal-hal sederhana, semisal jam bangun tidur, jam makan, olahraga, diet sehat, dan lainnya.

    4. Kontrol media
    Informasi yang beredar secara masif di media dapat memicu re-experience atau perasaan tak menyenangkan lainnya. Batasi penggunaan media untuk hal-hal positif atau membangkitkan semangat.

    5. Keep yourself busy
    Lakukan kegiatan positif untuk menyalurkan energi anda. Do something! Memasak, olahraga, menulis, berjalan-jalan, apa saja. Beraktifitas akan mempercepat upaya pemulihan mental dari stres.

    6. Remember: You are not alone
    Ingatlah bahwa kita tidak sendirian menghadapi semua ini. Ada orang-orang dengan kondisi yang sama, dan selalu ada orang-orang yang peduli dan ingin melihat kita bangkit dari keterpurukan.


    Kapan anda butuh pertolongan?
    Jika anda mengalami stress berkepanjangan dan merasa tidak dapat beraktifitas secara normal kembali, maka anda harus meminta bantaun profesional yaitu psikolog atau psikiater.

    Kegiatan rekreasional terapi oleh relawan (courtesy: Relawan Sahabat Anak)


    Resources:
    Tugade, M. M., Fredrickson, B. L., & Barrett, L. F. (2004). Psychological Resilience and Positive Emotional Granularity: Examining the Benefits of Positive Emotions on Coping and Health. Journal of Personality, 72(6), 1161–1190. http://doi.org/10.1111/j.1467-6494.2004.00294.x

    Recovering Emotionally From Disaster. (August, 2013). Retrieved from: http://www.apa.org/helpcenter/recovering-disasters.aspx

    Coping After Tragedy. (June 14, 2016). Retrieved from: https://www.psychiatry.org/news-room/apa-blogs/apa-blog/2016/06/coping-after-tragedy


  • 0 comments:

    Posting Komentar