• The Power of Giving: Menemukan Kebahagiaan Diri Lewat Berbagi


    because sharing is caring

    Umat Muslim di seluruh belahan dunia baru saja merayakan Idul Adha. Di Indonesia, Idul Adha disebut juga Idul Qurban. Ada juga yang menyebutnya Hari Raya Haji. Penyebutan Idul Qurban tentunya karena momentum Hari Raya ini digunakan masyarakat menyembelih hewan kurban (kambing, sapi) sebagai salah satu bentuk ibadah sosial untuk qorib (dekat) mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Penyebutannya sebagai Hari Raya Haji, karena pada momentum ini, umat Islam tengah menunaikan ibadah haji.

    Kita tinggalkan perihal penamaan, karena ada esensi yang lebih penting ,dan tak pernah berubah dari masa ke masa. Perihal Idul Adha yang meninggalkan nilai-nilai keteladanan; keteguhan, ketaatan, keikhlasan, keberanian, ayah-anak, Ibrahim dan Ismail A.S. Cerita ini pun direkam dengan sangat indah dalam al-Quran. Berkurban kemudian menjadi sebuah kebahagiaan, bukan hanya simbolis dengan menyembelih hewan. Kelebihan rezeki yang tak lantas dinikmati sendiri, namun menjadi sarana untuk berbagi.


    Berbagi dan Perasaan Bahagia

    Apakah ada kaitan antara berbagi dan bahagia? Jawabannya iya. Terkait hal ini, cukup banyak jurnal penelitian yang membahas korelasi antara berbagi, memberi, berbuat baik dan perasaan bahagia yang muncul.

    Alasan paling mendasar adalah sifat manusia sebagai makhluk sosial yang tumbuh dan bertahan hidup atas keberadaan manusia lain di sekitarnya. Kebaikan—generosity—menjadi salah satu insting untuk bertahan hidup. Melihat konteks zaman, kerelaan berbagi dan memberi pada masa lampau hadir dalam bentuk yang sangat sederhana, semisal berbagai air, makanan atau tempat tinggal. To date, by giving to one another, we help the survival of human community.

    Spektrum berbagi sangat luas. Tak hanya berbagi dalam bentuk benda atau barang, namun juga berbagi waktu, ide, energi—nearly everything, in positive meaning.

    Dalam sebuah penelitian di tahun 2006, Jorge Moll dan rekan-rekannya di National Institutes of Health menemukan bahwa ketika orang memberikan donasi (sumbangan) untuk kegiatan sosial, maka aktifitas ini mengaktifkan daerah otak yang berhubungan dengan rasa bahagia, koneksi sosial, dan kepercayaan. Para ilmuwan juga percaya bahwa perilaku altruistik melepaskan endorfin di otak hingga menghasilkan perasaan positif yang dikenal sebagai “helper’s high”.

    Menariknya, beberapa penelitian juga mengaitkan kebiasaan berbagi dengan kesehatan dan umur panjang.

    Doug Oman dan rekan sesama peneliti dari University of California, Berkeley, menemukan 44% orang-orang yang terlibat aktif dalam kegiatan sosial di dua organisasi atau lebih, di usia lanjut memiliki masa hidup lebih lama sampai dengan 5 tahun, dibandingkan mereka yang non relawan, bahkan meski kedua kelompok tersebut sama-sama menerapkan pola hidup sehat. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Stephanie Brown dari University of Michigan. Penelitiannya di tahun 2003, menemukan bahwa pada usia lanjut, orang-orang yang gemar membantu teman, kerabat, dan tetangga, dan memberikan dukungan emosional pada pasangan, memiliki usia hidup yang lebih lama.
     

    Melatih Kepekaan Berbagi

    Menilik pendapat tentang berbagai sebagai salah satu survival instinct, maka keinginan berbagi sebetulnya telah ada pada diri masing-masing. Lihat saja pada bayi atau anak-anak kecil yang dengan mudahnya memberikan makanan yang mereka miliki kepada temannya.

    Seiring dengan tahapan perkembangan pada anak-anak, akan sampai masa dimana ego memiliki mereka muncul, rasa ”ke-akuan” berkembang. Peran oangtua disini menjadi sangat penting untuk melatih anak-anak tentang konsep berbagi. Mulai dari hal yang sederhana, semisal berbagai bekal makanan, bergliran menggunakan mainan atau benda lainnya, termasuk menemani atau bermain bersama saudara/teman yang usianya lebih muda.

    Kebiasaan berbagi dilatih melalui pengalaman nyata (real) bukan abstrak. Orangtua atau role model lainnya di lingkungan sekitar dapat memberikan contoh langsung kepada anak-anak, pun mengajak mereka merasakan sendiri pengalaman berbagi. Semakin sering anak-anak terpapar pada contoh positif yang mereka lihat, dengar, dan rasakan sendiri, maka mereka akan semakin peka untuk berbagi dan berbuat baik.

    Bagaimana dengan kita yang dewasa?
    Sudahkah kita melatih kepekaan kita? Untuk berbagi memberi? Untuk menjadi solusi dari masalah-masalah sosial di sekeliling kita?

    Selamat berbagi kebaikan, positive people!

    *Altruisme (KBBI)
    1. Paham (sifat) lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain (kebalikan dari egoisme);
    2. Sikap yang ada pada manusia, yang bersifat naluri berupa dorongan untuk berbuat jasa kepada manusia lain

    Referensi: 


    Haltwinger, John (Dec 24, 2014). The Science of Generosity: Why Giving Makes You So Happy. Retrieved from: https://www.elitedaily.com/life/science-generosity-feels-good-give/890500

    Brown, S.L., Nesse, R.M., Vinokur, A.D., Smith, D.M. (2003). Providing Social Support May Be More Beneficial Than Receiving It: Results From a Prospective Study of Mortality. Vol 14, Issue 4, pp. 320 – 327. https://doi.org/10.1111/1467-9280.14461

    Oman D, Thoresen CE, McMahon K. Volunteerism and Mortality among the Community Dwelling Elderly, Journal of Health Psychology, 4 (3):301-16. 1999

    Moll, Jorge & Krueger, Frank & Zahn, Roland & Pardini, Matteo & de Oliveira, Ricardo & Grafman, Jordan. (2006). Human Front-Mesolimbic Networks Guide Decisions about Charitable Donation. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 103. 15623-8. 10.1073/pnas.0604475103.


  • 0 comments:

    Posting Komentar