• Get to Know: Membedakan Takut, Cemas, Fobia, dan Trauma

    Takut, Fobia, Cemas, dan Trauma—Empat istilah ini sering kita gunakan untuk menggambarkan perasaan yang secara umum oleh banyak orang disebut sebagai “takut”. Keempat istilah tersebut sebetulnya memiliki definisi berbeda dan batasan yang jelas. Nah, agar kita lebih bijak menggunakan kata, yuk kita baca penjelasannya!


    image: everydayhealth.com

    TAKUT

    Takut: merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana (definisi KBBI).

    Berdasarkan pengertian dari KBBI di atas, maka perasaan takut adalah hal wajar jika disebabkan oleh hal-hal yang perlu diwaspadai, sesuatu yang berbahaya, atau mungkin mendatangkan bencana. Objek yang menjadi penyebab munculnya rasa takut adalah jelas, nyata dan sifatnya memang berbahaya.
    Contohnya, takut melewati suatu jalan karena banyak preman mangkal yang sering mengganggu, takut akan kawanan pencuri, atau takut diserang anjing liar yang berkeliaran di kompleks.


    CEMAS

    Cemas: tidak tenteram hati (karena khawatir, takut); gelisah (definisi KBBI).

    Cemas berbeda dengan takut, meski rasa tidak nyaman yang ditimbulkan bisa jadi sama. Pada kecemasan, objek yang menjadi sumber ketakutan tidak jelas dan tidak berbahaya.

    Misalnya, cemas memikirkan sahabat dekat yang tak kunjung memberi kabar hingga memunculkan “pikiran-pikiran aneh”, atau khawatir dengan perjalanan ke luar kota minggu depan lengkap dengan skenario hal-hal buruk yang mungkin terjadi.

    Perasaan takut maupun cemas sebtulnya adalah hal yang wajar, manusiawi. Namun jika berlebihan dan tidak bisa dikontrol maka dapat menganggu diri, baik secara fisik maupun psikis. Kecemasan yang berlebihan akan membuat kerja organ tubuh tidak normal. Saat serangan cemas muncul, penderita akan merasa sesak, mual, sampai ingin muntah, bahkan pingsan.

    FOBIA

    Fobia: ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderitanya (definisi KBBI).

    Pada fobia, ketakutan bersumber dari objek yang jelas namun tidak berbahaya. Misalnya, fobia akan ketinggian, binatang tertentu, darah, dan aneka objek lainnya. Fobia juga diklasfikasikan ke dalam salah satu bentuk gangguan kecemasan.

    Fobia dapat dikenali dengan melihat reaksi yang muncul saat seseorang melihat objek atau menghadapi situasi tertentu. Umumnya penderita akan terlihat panik, berusaha menghindar, dan menunjukkan perubahan fisiologis lainnya seperti berkeringat, nafas sesak, dan detak jantung meningkat.

    Umumnya, fobia disebabkan oleh pengalaman tidak menyenangkan atau menakutkan, atau pengaruh lingkungan—modelling dari orang dewasa yang bersamanya.

    TRAUMA

    Trauma: keadaan jiwa atau tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan jiwa atau cedera jasmani (Definisi KBBI).

    Trauma dipicu oleh adanya kejadian “traumatis”. Kejadian traumatis akan direspon berbeda oleh tiap individu. Misalnya, pernah mengalami kecelakaan saat berkendara motor, akan menjadi pengalaman traumatik dan membuat seseorang tidak berani lagi naik sepeda motor, namun bagi yang lainnya, bisa jadi pengalaman kecelakaan tersebut hanya dikategorikan sebagai peristiwa buruk dan tidak sampai menyebabkan trauma.

    Peristiwa traumatis dapat menimbulkan reaksi emosional dan reaksi fisik yang kuat. Pada beberapa orang reaksi ini akan mereda dalam hitungan hari hingga minggu. Ini masih tergolong normal. Pada beberapa lainnya, ggejala bisa berlangsung lebih lama dan lebih parah. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor seperti sifat persitwa traumatis, pengalaman tidak menyenangkan yang diperoleh sebelumnya, dukungan dari orang-orang di sekitar, dan kepribadian masing-masing individu.

    Gejala trauma dapat berupa gejala fisik, kognitif, perilaku, dan emosional. Gejala fisik dapat berupa kelelahan, sakit dan nyeri pada anggota tubuh tidur terganggu, sulit atau bahkan mogok makan. Gejala kognitif dapat berupa munculnya pikiran-pikiran buruk dari peristiwa traumatik yang dialami. Hal-hal kecil yang tidak kita sadari mampu memicu re-experience—merasa mengalami kembali—memunculkan kembali kenangan tidak menyenangkan hingga terjadi disorientasi dan kebingungan.

    Perubahan tingkah laku berupa sikap menghindar, baik menghindari objek, orang, maupun momen. Termasuk di dalamnya adalah menarik diri dari pergaulan sosial dan hilang minat pada hal-hal yang dulu biasa dilakukan. Perubahan emosi yang biasanya muncul adalah lekas marah, merasa bersalah, cemas, panik, dan sulit mengendalikan emosi.

    Nah, bagaimana? Cukup jelas kan perbedaannya.
    Meski sering digunakan secara bersamaan dan memiliki keterkaitan satu sama lain, keempat istilah ini perlu dipahami tidak hanya sebatas definisi. Pada tataran praktik, kita bisa menggunakan pengetahuan akan hal ini untuk lebih berempati pada orang-orang di sekitar kita.

    Seringkali, dalam kondisi yang tak menyenangkan, hal pertama yang bisa kita lakukan untuk orang lain adalah menenangkan dengan menunjukkan empati. Jika di luar batas wajar, maka akan sangat bijak, jika terhubung langsung dengan profesional seperti psikolog atau psikiater.

    Referensi:

    Anxiety Disorder. (October, 2017). Retrieved from: https://www.psychology.org.au/for-the-public/Psychology-topics/Anxiety

    Phobia. (October, 2017). Retrieved from: https://www.psychology.org.au/for-the-public/Psychology-topics/Phobias

    Types, Symptoms, and Treatment of This Persistent and Extreme Fear. Cherry, K., Fogoros, R.N. (August 31, 2018). Retreived from: https://www.verywellmind.com/what-is-a-phobia-2795454


  • 0 comments:

    Posting Komentar