• STRESS AND SELF-CARE

    STRES & SELF-CARE

    Awal Februari lalu (02/02), CEO Rumah Hijau (RH) Consulting, Pujiarohman M.Psi., Psikolog, yang akrab dipanggil Bang Puji mengisi event #AcibaraTalk tentang mental health awareness. Topik yang diangkat adalah tentang stress. Yuk, simak ulasannya!


    Stres adalah respon individu; fisik, mental, emosi, tingkah laku, terhadap tekanan atau kondisi yang kurang atau tidak menyenangkan dari lingkungan.

    Stres = Respon Alami

    Hal pertama yang perlu kita pahami tentang stres adalah sifatnya yang alami dan pasti dirasakan oleh setiap individu.

    Besok ada ujian, stres! Pekan depan harus ketemu gebetan, stres! Selesai kuliah belum dapet kerja, stres! Duit buat modal nikah masih kurang, stress! Pernah mengalami yang seperti ini?

    Di satu sisi, stres berperan positif sebagai warning system—alarm pengingat—bahwa memang dalam menjalani kehidupan berikut ragam peran di dalamnya, manusia butuh stres untuk bergerak dan mengusahakan yang terbaik demi melalui tantangan dan bertahan hidup.

    Nah, kalau sekarang kamu merasa sedang stres karena banyak-hal-yang-harus-diselesaikan, rilex and slow down a bit, bilang sama diri kamu bahwa ini wajar, dan pelan tapi pasti kamu akan menemukan satu demi satu solusi tantangan yang kamu hadapi.

    © 

    RH Consulting


    Stres = Persepsi

    Perception is where it all starts. Semua bermula dari persepsi. Tingkat stress seseorang sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut mempersepsikan suatu kejadian. Peristiwa yang persis sama bisa jadi memiliki pengaruh yang berbeda pada individu karena perbedaan persepsi yang dimiliki.

    Persepsi sendiri bukanlah hal yang ujug-ujug ada. Ia hadir seiring dengan perjalanan manusia; bagaimana individu lahir dan dibesarkan, orang-orang di sekelilingnya, pengalaman hidup dan kompleksitas lainnya. Menarik!

    Stres muncul ketika kita mempersepsikan suatu kejadian sebagai peristiwa yang sulit, berbahaya, menyedihkan, ditambah dengan perasaan bahwa kita tak bisa mengatasi tantangan tersebut. Sistem dalam tubuh kemudian akan memunculkan respon stress (fight or flight response).



    © 

    RH Consulting


    Apakah stres berbahaya?

    Karena stres merupakan respon alami, maka seharusnya ia tidak berbahaya jika muncul dalam jumlah yang cukup. Stres merangsang individu untuk berpikir kreatif, menjadi produktif, dan menciptakan skema-skema penyelesaian masalah/stresor yang mungkin hadir kembali di masa yang akan datang.

    Stres berbahaya jika ia muncul dalam dosis yang berlebih dan dalam jangka waktu yang lama. Ketika tidak mampu dikelola maka stres akan menyebabkan perubahan pada individu, meliputi fisik, mental, emosional, tingkah laku. Stres berkepanjangan akan memicu lahirnya gangguan kesehatan mental lainnya, termasuk gangguan kecemasan (anxiety) hingga depresi.

    Jika sudah berkepanjangan maka perlu bantuan profesional (psikolog/psikiater) untuk penanganan lebih lanjut.

    © 

    RH Consulting

    Self Care

    self-care dapat dipahami sebagai bentuk regulasi diri individu berupa aktifitas yang mendukung kesehatan fisik, mental, emosional.

    Ada lima aspek yang harus diperhatikan agar mental tetap sehat, agar diri tak rentan stress. Kelimanya meliputi: fisik, spiritual, sosial, mental, dan emosional. Nah, kira-kira aktifitas apa yang bisa dilakukan sebagai bentuk self-care untuk memenuhi kebutuhan terhadap 5 aspek tadi? Ada banyak kegiatan, ada banyak pilihan. It’s all up to you! Dengan begitu kita jadi lebih aware akan keunikan diri, mengenal diri dengan lebih baik, dan mampu mengelola stres secara positif.

    Yuk, belajar kelola stres!

    Kontributor: Eliyan Umamy



  • 0 comments:

    Posting Komentar