• FENOMENA: SOCIAL MEDIA PRESSURE (PART 2)

    Di tulisan sebelumnya, RH sudah membahas sedikit tentang bagaimana social media pressure bermula dan kaitannya dengan social comparison theory. Tulisan lanjutan berikut ini mengupas aneka bentuk tekanan yang mungkin muncul dari media sosial. Mungkin bukan kita yang mengalami, or we just over it, tapi bisa jadi ada orang-orang di sekeliling kita yang sekarang sedang struggle dengan hal tersebut.

    What are those pressures? Can we relate to it?


    hybridtalks.net


    The Pressure to Be available All the Time

    This one is funny yet real; Having to live an “online mode on” for 24 hours.
    Tekanan ini lebih banyak dialami oleh remaja. Semacam ada keharusan untuk tetap online selama 24/7. Setiap ada teman yang mengunggah foto atau post kita harus untuk memberikan like atau komentar. Notifikasi demi notifikasi berujung pada endless response. Fenomena ini dikenal juga sebagai FOMOFear of Missing Out—kecemasan yang muncul akibat tekanan untuk selalu feel included—menjadi bagian dari kelompok.


    The Pressure to Live the Best Life

    “Tuh liat, pekan lalu dia liburan. Wah enak banget yaa bisa jalan-jalan terus. Pakaiannya selalu branded, belum lagi make-up nya selalu pas. ”
    Boom! Self-image yang ditampilkan di media sosial tak jarang menjadi sumber tekanan bagi orang lain. And it takes all forms; dari body image hingga couple goal, prestasi hingga bridal shower, barang-barang kekinian hingga lingkar persahabatan. Menariknya, siapa saja bisa mengalami tekanan ini, lepas dari gender maupun usia.

    Sometimes, looking at friends’ feeds “makes you feel like everyone has it together but you”

    The Pressure to Engage in Certain Behaviors

    “Yok pose gini biar kekinian kayak orang-orang di medsos”
    Semuanya bermula dari pernyataan sesederhana di atas. Sepertinya tak beresiko, namun pada banyak kasus “ikut-ikutan” kerap berujung pada challenge ekstrim lainnya. Ada banyak challenges yang beredar di media sosial, tak sedikit yang aneh dan nir-faedah namun tetap banyak yang melakukan. Alasannya sekedar meramaikan, pembuktian diri, sampai ingin terkenal.


    The Pressure of Cyberbullying

    Social media provides open space to accommodate your thoughts and comments. This can be good and bad all at once.

    Semua orang bebas berkomentar di media sosial. Kebabasan ini sering disalahgunakan tanpa filter. Semua orang merasa berhak memberikan komentar, meski sebenarnya nggak ada kaitan apapun dengan hal / orang tertentu. Kita berkomentar tanpa berpikir bahwa komentar tersebut bisa jadi menyakiti orang lain. Bahkan meski niatnya buat sekedar lucu-lucuan. Jika tak jadi koban, apa iya kita harus ikut-ikutan jadi bullies?

    image: pngdownload


    Adakah di antara pressure di atas yang sedang teman-teman rasakan saat ini? How to handle all those pressures? How to stay “you” in this era of social media?

    Read more in the next article!


  • 0 comments:

    Posting Komentar