• FENOMENA: SOCIAL MEDIA PRESSURE (PART-1)

    Smartphone makin mudah dimiliki, akses internet tak lagi ngadat, bahkan sampai ke desa-desa. Alhasil, jumlah pengguna media sosial terus bertambah. Sebuah indikator yang menggambarkan kemajuan, namun di sisi lain melahirkan aneka tantangan. Penelitian terbaru oleh We Are Social dan Hootsuite mencatat per Januari 2018 penetrasi penggunaan internet di Indonesia mencapai 132,7 juta dari total total 265,4 juta penduduk Indonesia. Dari angka tersebut sekitar 130 juta diantaranya aktif di berbagai media sosial. Yes, termasuk kita! Kita yang sedang membaca artikel ini.

    image: mlifestyle.org


    MEDIA SOSIAL: DUA SISI MATA UANG

    Harus diakui bahwa keberadaan media sosial punya banyak manfaat. Dari yang klasik semisal sambung silaturrahim dengan kerabat dan teman hingga sarana memperoleh informasi. Yup, ada banyak sekali akun-akun penuh faedah yang berbagi tips ini-itu; termasuk akun perusahaan, figur publik, praktisi profesional, hingga “orang-orang biasa” yang jadi selebgram lewat berbagai konten. Menariknya, semua punya follower masing-masing.

    Di lain sisi, kita dikepung banjir informasi. Hanya dengan sekali klik akan bermunculan informasi dari berbagai lini dan ragam sudut pandang. Banyak akun dengan konten positif, namun tak sedikit yang bermuatan negatif atau bahkan cenderung mengarahkan opini publik. Kita memilih, memilah—namun, sedikit atau banyak, info-info tersebut memengaruhi kita. Pada akhirnya, semua selalu kembali kepada kita sebagai user. Mau follow akun yang mana? Mau ikut berkomentar atau tidak? The choice is always in our hand!

    KAMU VS MEDIA SOSIAL

    Sebelum dibahas lebih jauh, yuk kita coba refleksi diri dengan mencoba menjawab pertanyaan di bawah ini:

    1.  Apakah kamu pernah membandingkan kehidupan kamu menggunakan standar postingan orang-orang di media sosial?

    2. Apakah kamu pernah mengunggah postingan sebagai bentuk keinginan untuk menampilkan gambaran hidup yang sempurna layaknya postingan orang-orang di media sosial?

    3. Apakah setelah membuka media sosial kamu merasa down, karena banyak orang-orang yang tampak hebat karena sudah kemana-mana, punya apa-apa, sementara kamu disitu-situ aja?

    4. Apakah kamu merasa tidak mengalami dua hal di atas, namun sering komplain akan hidup on screen yang sebetulnya tak sama dengan kehidupan nyata?

    Kalau kamu menjawab iya untuk setidaknya dua dari pertanyaan di atas, berarti kamu tahu bahwa media sosial punya pengaruh terhadap preferensi dan bagaimana kamu memandang / menghadapi sebuah permasalahan.

    Apakah itu adalah hal yang salah? Nope. Tentu saja tidak. Kita harus mengakui bahwa media sosial punya potensi untuk itu. Bagian ini justru menjadi hal yang paling penting: kita aware akan kemungkinan ini sehingga mampu memfilter saat sesuatu sudah mulai keluar dari batas wajar.

    MEMBANDINGKAN DIRI, MENGAPA?

    Sebuah teori dalam ilmu psikologi, Social Comparison Theory, menjelaskan tentang dorongan yang ada pada diri manusia untuk mengevaluasi diri (self-evaluate). Kecenderungan untuk menilai diri seringkali dilakukan melalui komparasi sosial (social comparison). Pembanding dalam komparasi sosial umumnya adalah teman sebaya (same age group) atau kelompok yang dirasa memiliki kemiripan.

    “Seorang pelajar yang baru berlatih basket dan menguasai beberapa teknik dasar mulai mengevaluasi perkembangan latihannya. Ia membandingkan kemampuannya dengan pelajar lain yang mengikuti ekskul basket di sekolah”

    Menurut teori komparasi sosial, ada dua jenis perbandingan:

    • Upward Social Comparison
    Saat membandingkan diri dengan orang lain yang kita yakini lebih baik dari kita. Perbandingan ini berfokus pada keinginan untuk meningkatkan kemampuan diri. Dengan demikian, kita akan berusaha lebih keras dan menemukan cara untuk mencapai hal yang sama atau lebih dari pembanding.

    • Downward Social Comparison
    Saat membandingkan diri dengan orang yang dirasa tidak lebih baik dari kita. Perbandingan ini berfokus untuk menciptakan rasa “nyaman” terhadap diri sendiri.
    “Kemampuan saya mungkin tidak baik, tapi setidaknya saya lebih baik dari…”

    Pada dasarnya, kita melakukan kedua perbandingan di atas. Ada yang lebih sering melihat ke atas, ada juga yang lebih sering membandingkan ke bawah. Mana yang lebih baik? Sebenarnya ini bukan tentang baik – tidak baik, tapi lebih kepada bagaimana kita mampu menempatkan “perbandingan” ini sesuai porsinya.


    STANDAR MEDIA SOSIAL

    “Ya iyalah, saya posting konten yang menarik. Yang ekspresinya happy, bajunya bagus, nongkrong bareng temen. Kalau nggak menarik, ya saya nggak posting”

    Nah, kira-kira begitu penjelasannya. Foto atau video yang diupload ke sosmed adalah konten yang sudah “dipersiapkan”. Tujuannya tentu macam-macam. Ada yang sekedar posting, ada yang memancing orang untuk berkomentar, menambah follower, berbagi rekomendasi, dan seterusnya.
    Dari beragam tujuan tersebut ada satu kesamaan:


    “What I post is what I want you to see, and that doesn’t represent the whole-on-going-things in life”

    image: studentshow.com

    Yap, sebenernya sesimpel itu. Postingan di media sosial tidak menggambarkan keseluruhan proses yang terjadi. Misalnya, ada foto-foto ibu dengan 3 anak yang masih kecil-kecil, terlihat happy dan enjoy menikmati liburan. Yang tampak di foto hanya bagian “happy”, tapi si ibu nggak pernah updet bagaimana repotnya harus ngurus tiga anak, packing, nabung, menahan diri buat nggak shopping, belum lagi proses diskusi dan debat soal menentukan tujuan liburan. Banyak!

    Sayangnya, banyak yang menjadikan postingan di media sosial sebagai standar. Siapa saja dengan mudahnya menambahkan hashtag #couplegoals #happylife #IWakeUpLikeThis dan banyak lainnya.

    “Kalau kamu nggak posting foto bareng pasangan saat sedang liburan orang bakal mikir kamu nggak bahagia dan nggak pernah jalan bareng”
    “Posting OOTD dan nongkring cantik bareng temen-temen supaya yang lain tahu kalau kamu masih aktif bergaul”

    Tentu tidak semua orang menjadikan standar media sosial sebagai standar pribadi, meski tak sedikit juga yang terpengaruh.

    “Banyak yang rela belanja barang mewah meski kantong pas-pasan demi konten Instagram yang terlihat wah. CafĂ© hopping bareng temen—dimana sebenernya semua sibuk pegang handphone—yang penting ada hashtag #friendshipgoal.”

    That’s how social media standard takes over someone’s life.


    Sekali lagi, tak semua! Banyak user yang menjadikan media sosial sebagai flatform bermanfaat untuk berbagai inspirasi. Banyak user yang menjadikan media sosial sebagai ruang interaksi apa adanya tanpa harus terbebani oleh standar-standar semu.

    Hemm.. bagaimana kalau kita sudah mulai merasakan tekanan? Apa yang harus dilakukan? Apa saja hal-hal yang mungkin muncul akibat tekanan media sosial?
    Bagaimana ber-media sosial secara positif?

    Lanjutannya ada di part-2 ya! Stay updated!












  • 0 comments:

    Posting Komentar